Gempa Lebak dan Isu LGBT

Pada sepekan yang lalu, kita dikejutkan dengan adanya berita gempa bumi yang mengguncang Lebak, Banten. Daerah tersebut sudah diguncang gempa sebanyak tiga kali. Yakni pada hari Selasa (23/1) diguncang gempa berkekuatan 6,1 Skala Richter. Kemudian pada kessokannya, yakni Rabu (24/1) kembali juga diguncang gempa dengan kekuatan 4,2 Skala Richter. Dan pada hari Jum’at, daerah tersebut kembali diguncang gempa dengan kekuatan 5,2 Skala Richter. Gempa ini juga dirasakan oleh Warga DKI Jakarta

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebanyak 2.935 rumah mengalami kerusakan dan paling banyak menimpa warga di Jawa Barat. Jumlah data kerusakan rumah dan bangunan terus bertambah. Gempa bumi 6,9 SR yang mengguncang Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY bagian selatan pada 15/12/2017 pukul 23:47 WIB telah menyebabkan 2.935 rumah rusak. Kerusakan terdapat di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dengan daerah yang paling terdampak adalah di Jawa Barat. Data sementara pada Minggu (17/12/2017) pukul 14.30 WIB, sebanyak 451 rumah rusak berat, 579 rumah rusak sedang, dan 1.905 rumah rusak ringan.
Selain itu juga terdapat kerusakan 46 unit sekolah/madrasah, 38 unit tempat ibadah, 9 kantor, dan 4 rumah sakit serta puskesmas
 
Beberapa warga net juga turut berkomentar atas terjadinya gempa ini.

Sebagian besar warga net mengaitkan kejadian ini dengan merebaknya isu LGBT yang kini sedang marak di Indonesia. Terutama setelah munculnya pernyataan dari Zulkifli Hasan terkait pembahasan RUU LGBT yang rumor nya ada beberapa fraksi yang menyetujui jika LGBT di legalkan.

Namun alangkah baiknya, kita tidak perlu mengaitkan kejadian Gempa ini dengan berbagai macam isu-isu yang ada di negeri kita ini, cukup dengan terjadinya gempa ini adalah sebagai peringatan dari Allah agar manusia senantiasa mengingat-Nya dan bertaubat kepada-Nya

Isu LGBT di Indonesia

Sebagai rakyat indonesia, saya sendiri tidak setuju jikalau LGBT itu dilegalkan. LGBT adalah perbuatan menyimpang dalam setiap agama. Dalam Al Qur’an sendiri telah menjelaskan betapa hinanya kaum Gay, Homo pada zaman Nabi Luth AS. Allah Berfirman :

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” [QS. Al-A’raaf: 80].
Dalam ayat yang agung ini, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa perbuatan sodomi antar sesama pria, yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth ‘alaihis salam, merupakan perbuatan fahisyah.
Sedangkan fahisyah adalah suatu perbuatan yang sangat hina dan mencakup berbagai macam kehinaan serta kerendahan.
Yang saya herankan bahkan miris ialah, dimana jika melarang LGBT adalah sama aja melanggar Hak Asasi Manusia. Padahal kalau kita kupas lebih dalam, LGBT ialah penyakit! Berikut ini ialah sumber yang menyatakan bahwasannya LGBT dapat disembuhkan :
Tentu asumsi bahwa LGBT bisa disembuhkan bukan sebatas utopia. Karena itu, pada kesempatan ini penulis mengajak para pembaca menelusuri kisah-kisah perjuangan mantan LGBT dalam menempuh reparative therapy (terapi pemulihan) sehingga mereka berhasil mengatasi perasaan Same-Sex Attractions, ketertarikan pada sesama jenis (selanjutnya kita sebut SSA), dan menjadi manusia normal, seorang laki-laki yang lurus orientasi seksualnya. Potongan-potongan kisah berikut merupakan kisah nyata yang penulis terjemahkan ringkas dari situs Josephnicolosi.com (untuk kisah selengkapnya, silahkan kunjungi sumber website).
Kisah pertama: (April 2014) Nama saya adalah Paul, 27 tahun, seorang mahasiswa pascasarjana yang sedang mengejar gelar Ph.D. Saya tinggal di sebuah apartemen dengan dua teman laki-laki. Mereka sebenarnya teman yang baik, tapi saya selalu merasa tertinggal sehingga kesulitan bergaul. Ketika mereka dengan mudahnya bergaul dengan banyak teman di luar sana, saya tertinggal sendiri di kamar disergap perasaan sepi, terlupakan. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang teratrik pada perempuan, saya justru merasakan ketertarikan pada laki-laki, bahkan itu terjadi sejak usia sekolah. Saya seringkali terbawa dalam dunia fantasi sehingga mulai menonton video porno gay. Sebuah keanehan yang saya sendiri tidak inginkan, berusaha menolak, tapi justru semakin jauh terbawa arus. Sebenarnya saya juga memiliki ketertarikan kepada lawan jenis, tapi rasa ketertarikan pada laki-laki jauh lebih kuat. Perasaan tidak nyaman itu mendorong saya untuk mencari solusi melalui buku-buku karya Dr. Nicolosi yang berjudul “Healing Homosexuality”, dan “Reparative Therapy and Male Homosexuality”. Setelah itu saya melangkah lebih serius dengan menemui Dr. Nicolosi secara langsung untuk menjalani terapi.
Fokus utama dari terapi tersebut adalah mengungkap pengalaman masa lalu yang kurang baik, seperti hubungan yang tidak sehat dengan orang tua. Saya akhirnya menyadari bagaimana ayah tidak pernah peduli pada pertumbuhan masa kecil saya, meskipun secara fisik dia ada di sana, atau bagaimana ibu selalu berkuasa membatasi setiap gerak-gerik dalam rumah sehingga tidak menyisakan ruang untuk saya tumbuh sebagaimana mestinya seorang anak laki-laki. Perempuan lain yang ada di dalam rumah adalah nenek dan tante, yang juga bersikap tidak jauh beda dengan ibu. Akibatnya, saya tumbuh sebagai anak yang canggung dalam bergaul. Bagian lain yang tidak kalah penting dari terapi tersebut  adalah mengatasi kecanduan saya terhadap video-video porno.
Saya menjalani reparative therapy tersebut selama dua tahun lebih, dan dinyatakan sembuh sekitar tiga bulan lalu. Sekarang saya sudah memiliki seorang istri dan dia sedang hamil tiga bulan. Kehidupan rumah tangga kami lebih dari cukup untuk dikatakan bahagia. Ketertarikan pada laki-laki tidak tersisa sama sekali kecuali sebatas keinginan untuk pertemanan. Menurut saya, bagian terpenting dari sebuah langkah terapi adalah menyadari bahwa tidak ada hal semacam pil ajaib yang bisa merubah hidup seseorang 180º secara tiba-tiba. Tidak ada solusi yang benar-benar sempurna, yang ada hanya usaha yang terus menerus.
Kisah keduaNama saya Bill, 50-an tahun, seorang ahli bedah ortopedi. Saya telah menjalani terapi sekitar tiga tahun. Saya mulai menyadari berbeda dengan kebanyakan orang sejak masa pubertas, selalu merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, karena saya memiliki ketertarikan terhadap laki-laki, meskipun juga tertarik kepada perempuan.
Selesai kuliah, saya segera menikah, tapi di saat yang bersamaan saya mulai kecanduan menonton video porno gay. Senang melakukan web-caming (semacam video-call) dengan laki-laki. Setelah menjalani terapi, saya akhirnya mengetahui bahwa pengalaman masa kecil memberi pengaruh yang sangat besar terhadap disorientasi seksual yang saya alami. Di usia 10-11 tahun, saya ingat ayah sering berganti pakaian di hadapan saya, sehingga saya langsung melihatnya tanpa pakaian. Di sekolah, saya selalu diperlakukan seperti anak perempuan; dijadikan bahan ejekan karena berbadan gemuk; dan dalam kelompok, misalnya, selalu berada di urutan terakhir. Paman juga seringkali memperlihatkan −maaf− alat kelaminnya tepat di muka saya. Sejak itu saya bertanya-tanya kanapa orang-orang memperlakukan saya seperti itu? Saya berasumsi, mungkin karena saya seorang gay.
Ayah adalah seorang yang sangat sibuk, bekerja mulai pukul 5.30 pagi dan selesai 7.30 malam, setiap hari. Saya tidak tahu banyak tentang beliau, hubungan kami tidak terlalu baik. Saya memiliki seorang saudara laki-laki, tapi ibu selalu menaruh perhatian lebih untuk saya, mengenakan pakaian yang terkadang feminin, bercerita tentang keburukan dan segala kekurangan ayah. Setelah menjalani terapi, saya akhirnya sadar bahwa saya adalah seorang laki-laki normal, 100%.
Setelah mejalani terapi, saya dinyatakan sempurna sembuh dari SSA, dan sekarang menjalani sebuah rumah tangga yang normal. Saya memiliki seorang anak laki-laki berumur 12 tahun, setiap pekan saya mengajaknya jalan-jalan, dan sebisa mungkin meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengannya. Saya tidak ingin dia mengalami hal yang sama seperti ayahnya.”
Dari dua kisah di atas, dapat dilihat bagaimana para penderita disorientasi seksual mengalami perjuangan yang panjang demi menjadi sosok laki-laki yang normal. Tentu masih banyak sekali kisah-kisah mantan LGBT di luar sana yang akhirnya sembuh setelah berjuang dengan sungguh-sungguh. Dari dua kasus di atas, terpapar bukti yang nyata bahwa seseorang bisa memilih untuk tidak menjadi individu LGBT, bahkan jika godaan untuk ke sana begitu kuat, selalu ada jalan kembali ke fitrah selama penderita memiliki keinginan untuk itu. Kenyataan tersebut setidaknya memberi motivasi kepada mereka yang telanjur “menerima” keadaan dirinya sebagai individu LGBT, untuk bangkit dan melawan penyimpangan SSA.

Sumber : https://lingkardakwah.com/lgbt-ternyata-bisa-sembuh-ini-buktinya/

Kalaupun LGBT dibiarkan bahkan dilegalkan di negara ini, malah makin miris kalau saya lihat negara ini. Apa jadinya jika nantinya generasi penerus akan semakin tak bermoral? Apakah anda mau nantinya negara ini mendapat Laknat Allah akibat semakin merebaknya LGBT ?

Semoga segera bermuhasabah diri dan bertaubatlah kepada Allah.. Karena kita sudah berada pada Akhir Zaman, dimana banyak sekali fitnah-fitnah dan keanehan-keanehan yang terjadi dimuka bumi ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: